get app
inews
Aa Text
Read Next : Ketua Forum Kebangsaan Banten: Soeharto Layak Pahlawan Nasional, Tolak Penilaian Emosional.

Cuaca Ekstrem Rendam 160 Hektare Sawah di Lebak, 50 Hektare Gagal Panen

Kamis, 08 Januari 2026 | 20:41 WIB
header img
Salah seorang petani di Desa Cisangu tengah menunjukkan lahan sawahnya yang terendam air.

LEBAK, iNewsBanten - Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan ratusan hektare lahan persawahan terendam banjir. Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mencatat sedikitnya 160 hektare sawah terdampak, dengan 50 hektare di antaranya dipastikan mengalami puso atau gagal panen. Kamis (08/01/2026).

 

Kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Cibadak yang menjadi wilayah paling terdampak. Selain dipicu oleh tingginya curah hujan, buruknya sistem drainase turut memperparah genangan air di sejumlah desa yang selama ini dikenal rawan banjir.

 

Kepala Bidang Bina Usaha Pertanian dan Perlindungan Tanaman (BUPPT) Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Irwan Riyadi, mengungkapkan bahwa total lahan sawah yang terdampak banjir berkisar antara 160 hingga 164 hektare. Seluruh lahan yang dinyatakan puso berada di Kecamatan Cibadak.

 

“Yang dinyatakan puso sebanyak 50 hektare dan semuanya berada di Kecamatan Cibadak,” ujar Irwan.

Ia menjelaskan, desa-desa yang terdampak banjir di Kecamatan Cibadak meliputi Desa Cisangu, Cimenteng Jaya, Panancangan, dan Bojong Cae. Dari sejumlah wilayah tersebut, Desa Cisangu menjadi yang paling parah dengan luas genangan mencapai sekitar 101 hektare.

 

Meski saat ini sebagian besar genangan air telah surut, kerusakan tanaman padi di sejumlah lahan tidak dapat dihindari. Sawah yang dinyatakan puso diketahui terendam banjir dalam waktu cukup lama sehingga tanaman padi mengalami kerusakan total.

 

“Walaupun air sudah surut, tanaman padinya sudah rusak atau kusut. Itu tidak bisa diselamatkan dan dipastikan gagal panen,” katanya.

 

Irwan menambahkan, usia tanaman padi yang terdampak bervariasi, mulai dari 20 hingga 60 hari setelah tanam (HST). Pada fase pertumbuhan tersebut, tanaman padi sangat rentan terhadap genangan air dalam durasi panjang sehingga tidak mampu pulih.

Sebagai langkah penanganan, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk mengajukan bantuan benih padi pengganti bagi petani yang lahannya mengalami puso.

 

“Secara aturan, bantuan hanya bisa diajukan untuk lahan yang benar-benar puso. Data dari petugas POPT sudah kami terima dan akan kami sampaikan ke provinsi,” jelasnya.

 

Namun demikian, Irwan mengakui tidak ada skema ganti rugi langsung bagi petani yang tidak terdaftar dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Petani yang mengikuti program asuransi tersebut berpeluang memperoleh klaim kerugian melalui PT Jasindo sebagai perusahaan asuransi yang ditunjuk pemerintah.

 

“Kalau petani ikut asuransi, tentu ada ganti rugi. Tapi kalau tidak ikut, pemerintah hanya bisa membantu dalam bentuk benih pengganti,” ujarnya.

Editor : Mahesa Apriandi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut