Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dominasi Kendaraan Berpelat Luar A, HIPPI Banten Soroti Minimnya Manfaat Ekonomi Lokal
Advertisement . Scroll to see content

Potensi Ekonomi Karbon Indonesia Besar, Jakarta Didorong Jadi Pusat Investasi Hijau

Minggu, 06 September 2026 | 12:38 WIB
  • author Sultan Tanjung
Potensi Ekonomi Karbon Indonesia Besar, Jakarta Didorong Jadi Pusat Investasi Hijau
HIPPI dan LestarX menginisiasi Jakarta Carbon Central Hub untuk mendorong Jakarta menjadi pusat aktivitas ekonomi karbon.

Tangerang, iNews Banten - Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX menginisiasi pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH). Ekosistem tersebut ditujukan guna memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi karbon, pembiayaan hijau, teknologi iklim, dan pengembangan proyek dekarbonisasi di Indonesia.

Inisiatif tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX. Kolaborasi ini akan mempertemukan pemilik proyek, pelaku usaha, industri, investor, lembaga keuangan, penyedia teknologi, hingga pemerintah dalam pengembangan ekosistem karbon.

Co-Founder LestarX Zulfahmy Wahab mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi karbon dunia. Namun, potensi tersebut perlu didukung ekosistem bisnis yang terintegrasi, kredibel, terukur, serta memiliki akses terhadap pembiayaan dan pasar.

"Indonesia jangan hanya menjadi pemilik sumber daya karbon, tetapi harus menjadi salah satu pusat penciptaan nilai ekonomi karbon dunia. Jakarta harus mengambil posisi strategis sebagai hub yang menghubungkan proyek, teknologi, pembiayaan, pasar, dan investasi karbon Indonesia dengan ekosistem global," ujar Zulfahmy dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

Menurut Zulfahmy, pengembangan ekonomi karbon tidak sebatas perdagangan kredit karbon. Ekosistem tersebut juga dapat mendorong investasi, industrialisasi hijau, penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, serta pengembangan model bisnis berbasis dekarbonisasi.

CCH dirancang sebagai platform yang menghubungkan potensi proyek karbon di berbagai daerah dengan kebutuhan dekarbonisasi dari korporasi, kawasan industri, lembaga keuangan, investor, dan rantai pasok global.

Potensi yang akan dikembangkan mencakup sektor kehutanan dan penggunaan lahan, mangrove dan blue carbon, pertanian regeneratif, pengelolaan limbah, energi terbarukan, efisiensi energi, hingga teknologi carbon removal seperti biochar.

"Kita ingin membangun jembatan antara potensi karbon Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dengan capital, technology, industry dan market yang terkonsentrasi di Jakarta," kata Zulfahmy.

Dia mengatakan nilai ekonomi dari proyek karbon diharapkan tidak berhenti pada penerbitan kredit karbon, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri baru.

Sementara itu, Ketua Umum HIPPI Jakarta Pusat Denma Willyando mengatakan transisi menuju ekonomi rendah karbon harus memberikan peluang bagi dunia usaha nasional, termasuk pengusaha pribumi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Ekonomi hijau tidak boleh menjadi ruang yang hanya dapat dimasuki perusahaan besar. Pengusaha nasional dan UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi karbon," ujar Denma.

Menurut dia, keterlibatan HIPPI dalam pengembangan CCH merupakan upaya membuka akses dunia usaha terhadap pengetahuan, teknologi, proyek, pembiayaan, dan pasar yang berkaitan dengan ekonomi hijau.

Kolaborasi HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX juga diarahkan untuk mendorong pengembangan proyek karbon yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan daerah.

Pengembangan CCH nantinya akan mencakup lima pilar, yakni Carbon Project Development, Carbon Market & Offtake, Green Finance & Investment, Technology & MRV (Measurement, Reporting and Verification), serta Capacity Building & Green Entrepreneurship.

Ekosistem tersebut diharapkan mempertemukan proyek karbon dari berbagai daerah dengan kebutuhan dekarbonisasi korporasi serta sumber pembiayaan dari dalam dan luar negeri.

Zulfahmy mengatakan pengembangan ekonomi karbon juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari potensi sumber daya alam yang dimiliki.

"Kita tidak ingin mengulang sejarah ekonomi ekstraktif dalam bentuk baru. Kekayaan tersebut harus kita konversi menjadi intellectual property, teknologi, investasi, industri, lapangan kerja dan nilai ekonomi yang sebesar-besarnya bagi Indonesia," katanya.

Pada tahap selanjutnya, HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX akan mendorong forum kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun peta jalan pengembangan Carbon Central Hub dan mengidentifikasi proyek yang berpotensi menjadi proyek unggulan.

Sejumlah sektor yang akan dijajaki antara lain biochar dan pemanfaatan biomassa, kehutanan dan agroforestri, blue carbon, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, energi bersih, efisiensi industri, serta teknologi carbon removal.

Zulfahmy berharap Jakarta dapat menjadi tempat bertemunya pembiayaan, teknologi, sumber daya manusia, dan pasar bagi proyek-proyek karbon yang dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia.

"Proyek karbon dapat berada di seluruh penjuru Nusantara, tetapi Jakarta harus menjadi tempat bertemunya capital, technology, talent dan market," pungkasnya.

Editor: Mahesa Apriandi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut