Duka Mendalam dari Tanah Papua, Letda Jihad Tewas Saat Bertugas, Keluarga Menanti Kebenaran

Erdi
Suasana haru menyelimuti pemakaman Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasyid di Taman Makam Bahagia Sorong. Perwira elite Kopassus ini gugur usai diduga tertembak rekan sejawat saat bertugas di Solo. Foto: Stevani Gloria

SERANG, iNewsBanten - Duka mendalam dan tanda tanya besar menyelimuti kematian perwira pertama elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasyid, S.Tr.(Han). Putra terbaik asal Raja Ampat tersebut meregang nyawa akibat dugaan penembakan oleh rekan sejawatnya saat bertugas di Solo, Jawa Tengah.

 

Hingga jenazah dikebumikan secara militer di Taman Makam Bahagia Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Minggu (25/10/2026), pihak keluarga masih menuntut transparansi dan keadilan atas insiden berdarah tersebut.

 

Jenazah Letda Jihad tiba di Sorong dengan pengawalan langsung dari Komandan Grup 2 Kopassus, Brigjen TNI Edwin Apria Candra. Almarhum merupakan putra kedua dari pasangan Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 181/PVT Sorong, Mayor Inf Dr. H. Triyana, S.Pd.I., M.Pd.I., dan Sekretaris Dinas PM-PTSP Kota Sorong, Hj. Zainab Jelfoom, S.IP.

 

Perwakilan keluarga, Lantoga Sapua, secara terbuka mempertanyakan kronologi pasti dan motif di balik tewasnya almarhum. Ia menyebutkan, pihak keluarga sejauh ini hanya menerima informasi awal dari Komandan Batalyon (Danyon) bahwa terduga pelaku telah diproses oleh internal kesatuan Kopassus. Namun, detail peristiwa dan status hukum pelaku masih gelap.

Desakan agar kasus ini diusut secara terang benderang juga disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk tokoh politik dan pemuda Papua Barat Daya, Syarifuddin Sabonama. Ia mendesak negara untuk tidak menutup mata terhadap kematian tidak wajar yang menimpa prajurit asal Papua.

 

"Setiap anak darah Papua yang meninggal secara tidak wajar saat berdinas atau bertugas, harus diusut dengan terang dan tuntas agar mendapatkan keadilan. Jangan buat kami semakin tidak percaya dengan negeri ini karena contoh seperti ini," tegasnya.

 

Syarifuddin juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas rasa kehilangan yang dialami keluarga almarhum.

 

"Kopassus hanya kehilangan satu prajurit terbaiknya, tapi kami keluarga kehilangan dia selama-lamanya," ungkapnya menirukan jerit hati keluarga saat ditemui di rumah duka.

Anggota DPD RI, Hartono, yang turut melayat ke rumah duka, telah menyatakan komitmennya untuk mengawal kasus ini hingga tuntas. Hartono dilaporkan telah berkoordinasi langsung dengan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI Rafael Granada Baay, guna memastikan proses penegakan hukum berjalan transparan dan berkeadilan, serta berencana membawa persoalan ini ke meja rapat dewan.

 

Di sisi lain, Komandan Korem 181/PVT Sorong, Brigjen TNI Slamet Riadi, dan Komandan Grup 6 Kopassus, Brigjen TNI Richard Arnold Y. Sangari, yang memimpin langsung upacara penghormatan terakhir, telah menyampaikan komitmen moral agar pelaku menjalani proses hukum yang berlaku.

 

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) belum merilis satupun pernyataan resmi terkait kronologi utuh, motif penembakan, maupun status penahanan pelaku yang merenggut nyawa perwira muda lulusan pendidikan lanjutan Rusia tersebut. Publik dan keluarga kini menanti pembuktian transparansi peradilan militer yang presisi dan berkeadilan.

Editor : Mahesa Apriandi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network