Menanam Adab di Tengah Arus Globalisasi: Ikhtiar Baru Pendidikan di Cilegon
CILEGON, iNewsBanten-Kota Cilegon menambah satu lagi pilihan pendidikan berbasis nilai Islam dan globalisasi. SD Islam Al Azhar 40 YPKS resmi memulai operasionalnya, menandai babak baru dalam upaya membentuk generasi muda yang beradab dan siap menghadapi tantangan global.
Berlokasi di kawasan pendidikan milik Yayasan Pendidikan Krakatau Steel (YPKS), sekolah ini tak sekadar menawarkan kurikulum nasional, tetapi merancang ekosistem belajar yang menekankan pada pembentukan karakter, penguasaan ilmu agama, dan penguasaan bahasa asing sejak dini.
Peresmian sekolah yang digelar Senin (14/7/2025) dihadiri oleh Wali Kota Cilegon H. Robinsar dan sejumlah tokoh pendidikan. Namun, di balik seremoni itu, ada harapan besar yang ditanamkan pada lembaga ini—yakni membangun generasi yang tak hanya pintar, tetapi juga santun dan berintegritas.
"Kami merancang sekolah ini sebagai tempat tumbuhnya anak-anak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai adab, akhlak, dan memiliki wawasan global," kata Ridwan Arifin, Kepala Sekolah SD Islam Al Azhar 40 YPKS.
Ridwan menyebut sejumlah program unggulan telah disiapkan, mulai dari penguatan nilai adab, hafalan Juz 30, doa harian, Tamyiz (metode cepat memahami bahasa Arab), hingga program bilingual yang menjadi identitas khas jaringan pendidikan Al Azhar.
Selain itu, sekolah ini juga memperhatikan kualitas ruang belajar. Fasilitas seperti perpustakaan modern, laboratorium, lapangan olahraga, hingga toilet yang bersih dirancang agar menunjang kenyamanan dan efektivitas pembelajaran.
Menariknya, grand opening ini langsung disambung dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru. Namun, MPLS di sekolah ini dirancang jauh dari kesan formal dan kaku. Anak-anak diajak mengenal lingkungan sekolah melalui aktivitas yang menyenangkan, edukatif, dan mempererat ikatan emosional antara guru dan murid.
Bagi orang tua murid, kehadiran Al Azhar 40 menjadi angin segar. Di tengah kekhawatiran akan degradasi moral generasi muda dan tantangan era digital, sekolah ini menawarkan pendekatan pendidikan yang menyentuh akar persoalan: pembentukan karakter sejak usia dini.
Kini, tinggal bagaimana sekolah ini membuktikan visinya dalam praktik sehari-hari. Sebab, tantangan pendidikan hari ini bukan sekadar soal kurik.
Editor : Mahesa Apriandi