Di Balik Jeruji Lapas Kelas III Rangkasbitung, Warga Binaan Berlomba Khatam Al-Qur’an
LEBAK, iNewsBanten - Suasana Ramadhan menghadirkan nuansa berbeda di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Di balik jeruji besi, ratusan warga binaan justru semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an melalui beragam program pembinaan keagamaan. Rabu (25/02/2026).
Setiap hari, puluhan warga binaan tampak khusyuk mengikuti tadarus Al-Qur’an dalam program One Day One Juz yang digelar di Masjid Jami At-Taubah di dalam lingkungan lapas. Program ini menargetkan setiap peserta mampu mengkhatamkan Al-Qur’an selama bulan Ramadan.
Tak hanya bagi yang sudah lancar membaca, pihak lapas juga membuka kelas Iqro bagi warga binaan yang masih belajar dasar membaca huruf hijaiyah. Mereka dibimbing oleh sesama warga binaan yang berperan sebagai guru ngaji. Targetnya jelas, memberantas buta huruf Al-Qur’an di dalam lapas.
Salah satu warga binaan, Alvian Arief Munawar, mengaku kegiatan tersebut membawa perubahan besar dalam kesehariannya.
“Program ini membuat kami lebih disiplin dan punya target ibadah yang jelas. Rasanya waktu di dalam lapas jadi lebih bermanfaat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada 12 warga binaan yang secara khusus ditargetkan membaca lima juz per hari, secara berkelompok.
“Kalau dikumpulkan, dalam sehari kami bisa dua kali khatam Al-Qur’an secara bersama-sama, biasanya dilakukan pada malam hari,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan target bacaan, tetapi menjaga konsistensi dan keikhlasan selama menjalankannya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Rangkasbitung, Muarif Khakim, menyebut antusiasme warga binaan di luar perkiraan.
“Selama Ramadhan, peningkatan partisipasi warga binaan dalam kegiatan keagamaan sangat signifikan. Mereka tidak hanya tadarus, tetapi juga mengikuti tausiah dan menyaksikan pemutaran video tentang sejarah serta kebudayaan Islam,” jelasnya.
Saat ini, Lapas Kelas III Rangkasbitung menampung 298 warga binaan dari berbagai kasus. Muarif berharap program pembinaan keagamaan tersebut mampu membentuk pribadi yang lebih baik dan memperkuat keimanan para warga binaan.
“Kami ingin mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab, dengan bekal nilai-nilai agama yang kuat,” tambahnya.
Ramadan di Lapas Kelas III Rangkasbitung menjadi bukti bahwa harapan selalu ada, bahkan di balik tembok tinggi dan pintu besi. Setiap orang, pada akhirnya, berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menata masa depan yang lebih baik.
Editor : Mahesa Apriandi