get app
inews
Aa Text
Read Next : Ketua Forum Kebangsaan Banten: Soeharto Layak Pahlawan Nasional, Tolak Penilaian Emosional.

Tradisi Qunutan di Lebak, Warga Masak Ketupat dan Leupeut Sambut Pertengahan Ramadan

Kamis, 05 Maret 2026 | 19:18 WIB
header img
Salah seorang warga Lebak tengah membuat ketupat.

LEBAK, iNewsBanten – Kepulan asap tipis tampak membumbung dari rumah-rumah warga di sejumlah kampung di Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (5/3/2026) pagi. Memasuki hari ke-15 Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat kembali menggelar tradisi qunutan atau yang juga dikenal dengan sebutan ngupat.

 

Sejak dini hari, warga mulai disibukkan dengan kegiatan menganyam daun kelapa muda untuk cangkang ketupat, sekaligus merebusnya di atas tungku kayu bakar. Tradisi turun-temurun ini menjadi penanda pertengahan Ramadan sekaligus wujud rasa syukur karena telah menuntaskan setengah perjalanan ibadah puasa.

 

Selain itu, qunutan juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga melalui kebiasaan berbagi makanan dan berkumpul bersama.

 

Seperti yang dilakukan Suedah (54), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Usai sahur sekitar pukul 04.00 WIB, ia langsung mulai menganyam daun kelapa muda untuk membuat cangkang ketupat.

 

Anyaman tersebut kemudian diisi beras untuk ketupat dan ketan untuk leupeut, sebelum direbus dalam wajan besar menggunakan tungku kayu bakar sekitar pukul 06.00 WIB.

“Ini lagi bikin ketupat sama leupeut untuk qunutan. Dari zaman nenek kakek sudah ada, kita sebagai generasi sekarang tinggal menjalani saja tradisi orang tua,” ujar Suedah.

 

Ia mengaku memasak sekitar lima liter beras dan ketan. Dari jumlah tersebut, ia dapat menghasilkan sekitar 100 buah ketupat dan leupeut.

 

“Ketupat sama leupeut itu mah dapat saja sekitar 100 biji,” katanya.

 

Sebagian hasil masakan tersebut nantinya dibawa ke masjid untuk doa bersama sekaligus buka puasa bersama warga. Sementara sisanya dibagikan kepada keluarga dan tetangga, terutama bagi mereka yang tidak sempat membuat.

 

“Sebagiannya kita kirim ke masjid untuk doa bersama, nanti juga buat buka bersama. Selebihnya dibagi-bagi ke keluarga dan tetangga,” jelasnya.

Dalam tradisi ini, ketupat dibuat dari beras biasa, sedangkan leupeut berbahan dasar ketan yang dicampur kelapa parut. Biasanya, leupeut juga ditambahkan kacang tanah untuk memperkaya rasa. Namun kali ini Suedah hanya menggunakan kelapa karena keterbatasan bahan.

 

“Kalau leupeut biasanya pakai kacang, tapi sekarang lagi tidak kebeli kacang, jadi cukup kelapa saja sudah,” tuturnya.

 

Ketupat dan leupeut umumnya disajikan bersama sayur bersantan seperti ayam, labu siam, tahu, atau tempe, sesuai kemampuan masing-masing keluarga. Kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan utama tradisi qunutan, yakni berbagi tanpa melihat besar kecilnya hidangan.

 

Melalui tradisi ini, warga berharap kebersamaan tetap terjaga dan doa yang dipanjatkan di pertengahan Ramadan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.

 

“Harapannya kita semua diberi keselamatan, rezeki yang bermanfaat, sehat selalu dan umur panjang yang barokah,” tutup Suedah.

Editor : Mahesa Apriandi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut