get app
inews
Aa Text
Read Next : Ketua Forum Kebangsaan Banten: Soeharto Layak Pahlawan Nasional, Tolak Penilaian Emosional.

Anak 11 Tahun Tersengat Ikan Beracun di Pulau Tunda Serang, Minimnya Layanan Kesehatan Disorot

Senin, 23 Maret 2026 | 08:42 WIB
header img
Ilustrasi anak 11 tahun minim mendapatkan pelayanan medis setelah terkena sengatan ikan beracun. (Foto: Istimewa).

SERANG, iNewsBanten – Nasib miris dialami seorang anak berusia 11 tahun, putra dari M. Hamzah, warga Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Ia harus menahan rasa sakit akibat sengatan ikan beracun jenis lepo (stonefish) tanpa penanganan medis yang memadai.

 

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (22/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di kawasan Pantai Pulau Tunda. Saat kejadian, korban tengah berenang bersama adiknya sebelum tiba-tiba mengeluh kesakitan hebat di bagian kaki.

 

“Awalnya hanya bermain seperti biasa. Namun, sekitar satu jam kemudian anak saya tiba-tiba kesakitan. Kakinya langsung bengkak karena terkena duri ikan beracun,” ujar Hamzah.

 

Kepanikan pun terjadi. Namun ironisnya, di tengah kondisi darurat tersebut, tidak ada tenaga medis yang bisa memberikan pertolongan. Fasilitas kesehatan yang ada di Pulau Tunda disebut tidak siaga saat dibutuhkan.

 

“Di puskesmas pembantu Pulau Tunda tidak ada bidan, tidak ada mantri. Seharusnya mereka siaga untuk kondisi seperti ini,” katanya.

Hamzah menduga, tenaga kesehatan yang bertugas tengah libur Lebaran dan memilih pulang ke luar pulau. Tanpa alternatif lain, ia terpaksa mengandalkan pengobatan tradisional untuk meredakan rasa sakit anaknya.

 

Kejadian ini kembali menyoroti minimnya layanan kesehatan di wilayah kepulauan. Hamzah menilai, absennya tenaga medis bukan sekadar kelalaian, melainkan persoalan serius yang terus berulang dan berdampak langsung pada keselamatan warga.

 

“Kami jauh dari daratan. Jika harus berobat ke Serang atau Tirtayasa, butuh waktu dan biaya besar. Sementara kondisi darurat tidak bisa menunggu,” tegasnya.

 

Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Serang untuk segera mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan di Pulau Tunda. Menurutnya, dibutuhkan tenaga medis yang benar-benar siap tinggal dan mengabdi, bukan sekadar datang lalu pergi.

“Kalau bisa, utamakan putra-putri daerah yang tinggal di sini agar lebih cepat tanggap. Jangan sampai fasilitas ada, tapi tidak bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

 

Hamzah menambahkan, sebenarnya banyak warga Pulau Tunda yang memiliki potensi untuk menjadi tenaga kesehatan. Ia berharap pemerintah membuka peluang agar mereka dapat mengabdi di daerah sendiri.

 

Peristiwa ini menjadi potret nyata ketimpangan layanan kesehatan di wilayah kepulauan. Di tengah kemudahan akses medis di perkotaan, warga Pulau Tunda masih harus menghadapi keterbatasan, bahkan untuk mendapatkan pertolongan pertama.

 

Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk segera membenahi layanan kesehatan. Sebab, di balik keindahan Pulau Tunda, masih tersimpan persoalan mendasar terkait hak masyarakat atas layanan kesehatan yang layak.

Editor : Mahesa Apriandi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut