Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : BreakingNews! Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat Usai Kumandangkan Azan Subuh Terakhir di Masjidil Haram
Advertisement . Scroll to see content

Bocah Demam 40 Derajat di Lebak Tak Mendapat Ruang Perawatan, Keluarga: Seharusnya Dirujuk ‎

Selasa, 22 September 2026 | 23:25 WIB
  • author Febri Febrianto
Bocah Demam 40 Derajat di Lebak Tak Mendapat Ruang Perawatan, Keluarga: Seharusnya Dirujuk ‎
Foto ilustrasi: Seorang anak mengalami demam tinggi yang diduga berkaitan dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap kasus DBD. (Foto: Istimewa)

LEBAK, iNewsBanten.id – Situasi mengkhawatirkan dialami keluarga DF, bocah berusia 7 tahun asal Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.

‎Saat demamnya melonjak hingga sekitar 40 derajat Celsius, DF dibawa keluarganya ke Puskesmas Warunggunung untuk mendapatkan penanganan. Namun, menurut orang tua DF, anak tersebut justru diminta kembali ke rumah setelah menjalani pemeriksaan suhu tubuh.

‎Keluarga mengaku semakin cemas karena kondisi DF saat itu disebut sudah sangat lemah. Bahkan, anak tersebut sempat mengigau dan tidak sadarkan diri.

‎Orang tua DF, EN, mengatakan keluarganya membawa sang anak ke Puskesmas Warunggunung sekitar pukul 01.30 WIB. Harapannya, DF bisa mendapatkan perawatan karena kondisinya semakin mengkhawatirkan. Selasa (22/9/2026)

‎"Setelah dicek suhu, istri saya disuruh pulang dengan alasan ruangan penuh. Maksud kami datang ke situ karena kondisi anak saya di rumah sudah kritis, panasnya sampai 40 derajat. Kami berharap anak saya bisa dirawat," ujar EN saat ditemui di rumahnya.

‎EN mengatakan keluarga berharap DF setidaknya mendapatkan rujukan apabila ruang perawatan di puskesmas memang tidak tersedia.

‎"Setidaknya kalau memang di situ penuh, dirujuklah ke rumah sakit. Ini malah disuruh pulang dengan alasan panasnya anak saya itu hanya panas biasa, demam biasa," katanya.

‎Menurut EN, saat itu DF juga sedang mengalami cacar. Kondisi tersebut, kata dia, turut menjadi alasan terkait keterbatasan ruang isolasi di puskesmas.

‎Keluarga akhirnya membawa DF kembali ke rumah. Karena khawatir dengan kondisinya, mereka kemudian meminta bantuan seorang mantri untuk memberikan perawatan. DF disebut mendapat infus dan sempat mengalami penurunan suhu tubuh.

‎Namun, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara.

‎Pada hari berikutnya, DF kembali mengalami demam tinggi. Tubuhnya juga disebut semakin lemas hingga membuat keluarga kembali mencari pertolongan medis.

‎"Saya menyuruh mantri datang ke rumah. Anak saya dirawat di rumah dan diinfus. Alhamdulillah panasnya saat itu turun, tetapi keesokan harinya anak saya malah panas dan lemas lagi," ujar EN.

‎Keluarga kemudian membawa DF ke sebuah klinik di Kecamatan Kalanganyar pada Senin (21/9/2026). Karena khawatir dengan kondisi anaknya, EN meminta dilakukan pemeriksaan darah.

‎Hasil pemeriksaan tersebut membuat keluarga terkejut. DF dinyatakan terjangkit demam berdarah dengue atau DBD.

‎"Saya minta dilakukan cek darah. Saya kaget ternyata anak saya terkena penyakit DBD," kata EN.

‎Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga menghadapi persoalan biaya pengobatan. EN mengatakan kartu BPJS Kesehatan milik DF sedang tidak aktif sehingga biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri.

‎EN memperkirakan biaya yang telah dikeluarkan mencapai ratusan ribu rupiah. Di antaranya sekitar Rp300 ribu untuk perawatan di rumah, Rp120 ribu untuk pemeriksaan darah, Rp100 ribu untuk konsultasi dokter, serta Rp90 ribu untuk obat.

‎Keluarga kini berharap kondisi lingkungan sekitar rumah DF mendapat perhatian. EN mengaku anaknya sudah dua kali mengalami DBD dan meminta adanya langkah pencegahan di lingkungan tempat tinggalnya.

‎"Saya mohon kepada pihak puskesmas untuk melakukan fogging di lingkungan rumah saya karena anak saya sudah dua kali terserang penyakit DBD ini," katanya.

‎Kasus ini menjadi perhatian keluarga karena DF sebelumnya mengalami demam tinggi dan kemudian dinyatakan DBD setelah menjalani pemeriksaan darah di klinik.

‎Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala infeksi dengue, termasuk demam tinggi. Penurunan demam juga tidak selalu menandakan kondisi pasien telah membaik karena fase kritis dapat terjadi setelah demam mereda.

‎Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak Puskesmas Warunggunung mengenai pemeriksaan DF, kondisi ruang perawatan saat itu, serta alasan keluarga diminta membawa DF kembali ke rumah.

Editor: Mahesa Apriandi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut