Krisis Air Bersih di Cihara Lebak, Warga Tempuh Tiga Kilometer untuk Mengambil Air Sungai
LEBAK,iNewsBanten.id – Kemarau panjang yang melanda wilayah Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten, membuat sejumlah warga kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut memaksa masyarakat memanfaatkan air sungai di sekitar Jembatan Cihara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci pakaian, membersihkan peralatan dapur hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah warga terlihat mendatangi aliran sungai dengan membawa wadah penampungan air. Beberapa ibu rumah tangga juga tampak mencuci pakaian dan peralatan dapur di sekitar sungai. Aktivitas tersebut menjadi gambaran kesulitan masyarakat dalam memperoleh pasokan air selama musim kemarau.
Kesulitan air bersih dilaporkan terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Cihara, di antaranya Desa Cihara, Ciparahu, Karangkamulyan, dan Pondok Panjang. Warga di wilayah tersebut harus mencari sumber air alternatif karena pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga semakin sulit diperoleh.
Salah seorang warga Desa Cihara, Juli, mengatakan kesulitan air bersih telah dirasakan masyarakat selama kurang lebih empat bulan terakhir. Bahkan, menurutnya, sebagian warga sudah hampir tiga bulan mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Betul, selama empat bulan terakhir ini kami mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang. Hampir tiga bulan kami hanya mengandalkan air sungai ini untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Juli, Kamis (15/10/2026).
Persoalan yang dihadapi warga bukan hanya terbatasnya sumber air, tetapi juga jarak yang harus ditempuh untuk mendapatkannya. Juli menyebut lokasi pengambilan air berada sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya.
Jarak tersebut membuat warga kesulitan apabila harus mengambil air dengan berjalan kaki, terlebih ketika harus membawa wadah berisi air untuk kebutuhan keluarga.
"Jarak dari tempat kami ke sungai sekitar tiga kilometer. Cukup jauh, jadi sulit kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi sambil membawa air," katanya.
Juli juga mengungkapkan bahwa bantuan air bersih dari pemerintah yang diterima masyarakat di Desa Cihara dinilai masih terbatas. Menurut pengakuannya, selama kurang lebih empat bulan menghadapi kekeringan, warga di desanya baru satu kali menerima bantuan pasokan air bersih.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap adanya penyaluran bantuan secara berkelanjutan, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki sumber air alternatif di sekitar tempat tinggalnya.
"Selama empat bulan kemarau ini, bantuan air bersih dari pemerintah yang kami terima, khususnya di Desa Cihara, baru satu kali," ungkapnya.
Ia menambahkan, kesulitan mendapatkan air bersih juga menjadi persoalan bagi warga lanjut usia. Mereka dinilai membutuhkan perhatian lebih karena tidak semua lansia mampu menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh air.
"Harapan kami pemerintah terkait bisa membantu menyediakan air bersih. Di Kecamatan Cihara juga banyak warga lanjut usia yang kondisinya memprihatinkan karena kesulitan mendapatkan air," tuturnya.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat melakukan pendataan terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi selama kemarau berlangsung.
Selain bantuan melalui distribusi air bersih, masyarakat juga membutuhkan solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau, khususnya di permukiman yang jauh dari sumber air.
Hingga berita ini disusun, keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Lebak maupun instansi terkait mengenai jumlah desa terdampak, penyaluran bantuan air bersih, dan langkah penanganan kekeringan di Kecamatan Cihara masih perlu dikonfirmasi.
Editor: Mahesa Apriandi