“Ketika terjadi adu fisik antarpemain, suporter dari Bendungan masuk lapangan dan ikut menyerang pemain Persada. Karena merasa tidak terima pemain Persada diserang, suporter lainnya ikut masuk ke lapangan sehingga terjadi keributan antarpemain dan suporter,” sampainya.
Namun begitu, polisi menyatakan pertandingan tersebut tidak mengantongi izin. Bahkan, ucap Romizal, keributan serupa disebut telah terjadi dua kali, yakni pada Selasa 20 Oktober dan Minggu 25 Oktober 2026.
Menurut polisi, setelah keributan pertama pada 20 Oktober, polisi memanggil kepala desa dan panitia pelaksana untuk meminta klarifikasi mengenai penyelenggaraan pertandingan. Saat itu, kepala desa dan panitia meminta agar pertandingan tetap dilanjutkan karena kompetisi telah memasuki babak semifinal.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
