Hadirkan Kelas Fundamen Upaya DEMA STISNU Aktifkan Ruang Diskusi Mahasiswa

TANGERANG, iNewsBanten - Dewan Mahasiswa (DEMA) STISNU Nusantara sukses menggelar Kelas Fundamen Vol. 1 selama 4 kali pertemuan dalam satu bulan. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Komunitas Sua.ra Logika yang bergerak diranah HAM & Demokrasi.
Beragam materi yang dihidangkan pada setiap pertemuannya seperti, Pengantar HAM; HAM dan Demokrasi; Perempuan, HAM dan Permasalahannya, dan Pengantar Ekofeminisme yang disampaikan oleh Topan Bagaskara.
Kelas Fundamen merupakan program pertama yang diinisiasikan oleh DEMA sebagai upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa STISNU Nusantara. Pelaksanaan kegiatan ini sudah dilaksanakan pada tanggal 13, 19, 24, 27 Februari 2025.
Ketua DEMA STISNU Nusantara, Ilham Rizafi menyampaikan kebanggaannya terhadap peserta yang hadir mengikuti Kelas Fundamen. Ia mengatakan walaupun yang hadir tidak banyak, namun tetap optimis pada kegiatan ini.
"Saya melihat kegiatan ini memiliki harapan besar untuk membentuk karakter mahasiswa STISNU lebih berpikir kritis dan kreatif terutama pada isu-isu kemanusiaan," kata Ilham ketika diwawancarai, Kamis (27/2) 2025.
Selain itu, Ilham menambahkan banyak persoalan kemanusiaan yang sepatutnya sebagai mahasiswa peduli dan bahkan mau berperan aktif untuk mengawal, mengkritisi dan mendiskusikan terkait persoalan atas penindasan kemanusiaan dan lingkungan yang telah terjadi.
"Iya setiap pertemuan kita selalu ditekankan bahwa setiap manusia memiliki hak kebebasan, baik kebebasan berpikir dan berpendapat. Apalagi pembahasan tidak hanya terkait hak atas manusia, tetapi hak terhadap lingkungan seperti keterhubungan hutan dan perempuan," ujar Ilham.
Seirama dengan Ilham, Syahri Fakhriyah Tri Kusuma dewi salah satu peserta Kelas Fundamen menuturkan bahwa kegiatan ini bisa menjadi sarana penambahan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan menarik.
"Kelas Fundamen ini membahas tentang apa itu hak asasi manusia, serta hak-hak yang lainnya. Juga menjadi titik awal untuk kita bisa bebas berdiskusi berpendapat sesuai dengan opini kita tanpa harus takut dengan tekanan sosial," ucap Syahri.
Selanjutnya, Debi Larasati juga ikut menanggapi adanya Kelas Fundamen ini menghadirkan manfaat untuk mengisi waktu luang mahasiswa selama libur semester.
"Memberikan ruang diskusi untuk melatih pola pikir yang kritis, saya harap kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana untuk membangun suatu kebiasaan berdiskusi," pungkasnya.
Editor : Mahesa Apriandi