Korban Gempa NTT Didominasi Patah Tulang, Kemenkes Kerahkan Dokter Ortopedi
Tangerang, iNews Banten - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, mayoritas korban luka akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami patah tulang atau fraktur.
Menurut Benjamin, kondisi tersebut banyak dialami korban akibat tertimpa material bangunan saat gempa terjadi. Para korban yang mengalami luka serius kini telah mendapatkan penanganan dari tenaga medis.
"Ya karena fraktur, karena kejatuhan rumah, paling banyak karena itu," ujar Benjamin di Kabupaten Tangerang, Kamis (20/8/2026).
Untuk mempercepat penanganan, Kementerian Kesehatan telah mengerahkan dokter spesialis ortopedi dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan Surabaya, Jawa Timur ke sejumlah wilayah terdampak.
Benjamin mengatakan, para dokter tersebut telah disebar ke delapan kabupaten untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para korban. Sejumlah tindakan operasi juga telah dilakukan.
"Dokter ahli ortopedi dari Makassar dan Surabaya sudah datang. Jadi kemarin kita kirim ke delapan kabupaten, kita pencar dokternya. Sekarang sudah melakukan penanganan, bahkan tindakan operasi sudah banyak sekali dilakukan," jelasnya.
Selain memastikan ketersediaan tenaga medis, pemerintah juga menjamin pasokan obat-obatan bagi masyarakat terdampak gempa masih dalam kondisi aman.
Benjamin menyebut, persediaan obat di wilayah terdampak masih mencukupi untuk kebutuhan hingga lima hari ke depan. Jika terjadi kekurangan, pasokan dapat segera dikirim dari sejumlah daerah.
"Aman stok obat. Setiap kabupaten mempunyai Pusat Krisis masing-masing dikepalai oleh kepala dinas setempat. Sehingga kalau ada kurang barang dari Halim Perdanakusuma langsung bisa terbang atau misalnya dari Makassar bisa bantu, dari Surabaya bisa bantu, termasuk tenaga medisnya. Jadi sekarang dalam keadaan terkendali," tuturnya.
Sebagai informasi, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8/2026).
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (19/8/2026) pukul 20.00 WIB, sebanyak 71 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi di sejumlah wilayah NTT mencapai 59.647 orang. Jumlah pengungsi terbanyak tercatat berada di Kabupaten Manggarai.
Editor : Mahesa Apriandi