Pelantikan Gerindra se-Banten, Daya Jual Politik Prabowo Bukan Jaminan
“Gerindra harus menyadari bahwa nama besar Prabowo tidak lagi cukup dijadikan modal utama untuk meraih simpati masyarakat. Ketika sudah berada di puncak kekuasaan, yang dinilai publik bukan lagi sosoknya semata, tetapi sejauh mana janji politik dapat diwujudkan melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan rakyat,” ujar Yudha, Senin(02/11/2026).
Menurutnya, figur Prabowo kini menghadapi ujian berbeda. Masyarakat tidak lagi hanya menilai gagasan, janji kampanye, atau citra kepemimpinannya, tetapi juga hasil nyata kebijakan pemerintah dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat strategi Gerindra yang bertumpu pada popularitas ketua umumnya perlu dievaluasi. Nama besar Prabowo memang masih menjadi identitas politik partai, tetapi popularitas seorang presiden tidak otomatis berubah menjadi dukungan elektoral bagi partai maupun calon legislatifnya.
“Prabowo hari ini bukan lagi Prabowo ketika berkampanye. Dahulu masyarakat menaruh harapan, sekarang masyarakat menuntut pembuktian. Perubahan posisi itu membuat daya tarik politiknya harus diuji melalui kinerja pemerintahan, bukan sekadar popularitas,” kata Yudha.
Hasil sejumlah survei nasional juga memperlihatkan adanya perbedaan penilaian terhadap kekuatan elektoral Prabowo. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 disebut mencatat elektabilitas Prabowo sebesar 9,8 persen dalam simulasi semi-terbuka, turun dari 34,9 persen pada November 2025.
Editor: Mahesa Apriandi