“Selama Ramadhan, peningkatan partisipasi warga binaan dalam kegiatan keagamaan sangat signifikan. Mereka tidak hanya tadarus, tetapi juga mengikuti tausiah dan menyaksikan pemutaran video tentang sejarah serta kebudayaan Islam,” jelasnya.
Saat ini, Lapas Kelas III Rangkasbitung menampung 298 warga binaan dari berbagai kasus. Muarif berharap program pembinaan keagamaan tersebut mampu membentuk pribadi yang lebih baik dan memperkuat keimanan para warga binaan.
“Kami ingin mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab, dengan bekal nilai-nilai agama yang kuat,” tambahnya.
Ramadan di Lapas Kelas III Rangkasbitung menjadi bukti bahwa harapan selalu ada, bahkan di balik tembok tinggi dan pintu besi. Setiap orang, pada akhirnya, berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menata masa depan yang lebih baik.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
