Enam Erupsi Strombolian Terjadi, Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Febri Febrianto
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi dengan kepulan abu vulkanik membumbung dari kawah. Foto: ilustrasi

SERANG, iNewsBanten.id – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih cukup tinggi. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat enam kali erupsi Strombolian setelah episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam berakhir pada Minggu (6/9/2026).

‎Meski aktivitas erupsi kini kembali menunjukkan pola letusan Strombolian yang menjadi salah satu karakter Gunung Anak Krakatau, potensi terjadinya letusan susulan masih dinilai tinggi.

‎Kondisi tersebut membuat Badan Geologi masih mempertahankan status aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

‎Keputusan itu berdasarkan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang dikeluarkan Badan Geologi pada Selasa (8/9/2026).

‎Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan kemunculan kembali erupsi Strombolian untuk sementara diinterpretasikan sebagai berakhirnya fase erupsi panjang yang berlangsung sejak 4 September 2026.

‎Namun, berdasarkan hasil pemantauan instrumental, dinamika vulkanik Gunung Anak Krakatau masih mengalami fluktuasi.

‎“Probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi. Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” kata Lana Saria dalam laporan evaluasi, Selasa (8/9/2026).

‎Berdasarkan hasil pengamatan periode 7 hingga 8 September 2026, Badan Geologi mencatat dua kali gempa erupsi, empat kali gempa hembusan, 76 kali gempa low frequency, 100 kali gempa hibrid atau fase banyak, delapan kali gempa vulkanik dangkal, serta sembilan kali gempa vulkanik dalam.

‎Selain itu, tremor menerus juga masih terekam selama periode pengamatan.

‎Sementara itu, hasil pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Tanjung dan Lava93 menunjukkan pola mendatar. Kondisi ini mengindikasikan aktivitas relatif konstan dan belum menunjukkan adanya tren peningkatan maupun penurunan yang tajam.

‎Meski demikian, Badan Geologi menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau masih membutuhkan pemantauan secara intensif.

‎Dengan status Level III atau Siaga, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah Gunung Anak Krakatau.

‎Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga diimbau menggunakan masker untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

‎Sementara itu, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta menjalankan aktivitas seperti biasa.

‎Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atau hoaks terkait potensi tsunami yang dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Editor : Mahesa Apriandi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network