Dua mahasiswa, Ridwan dari Untirta Movement Community dan Bento dari KMS30, juga sempat diamankan polisi. Keduanya kemudian dilepaskan kembali.
Di tengah aksi, mahasiswa menyampaikan berbagai kritik terhadap kondisi pemerintahan dan persoalan masyarakat di Banten. Mereka menilai masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, korupsi, kerusakan lingkungan hingga konflik agraria.
FORBAN menyoroti ketimpangan rata-rata lama sekolah antara wilayah Banten Utara dan Banten Selatan. Mereka juga mengkritik program Sekolah Gratis dan program Bang Andra yang dinilai belum menyelesaikan persoalan pendidikan secara mendasar.
Mahasiswa turut mempersoalkan anggaran pembangunan infrastruktur desa yang mereka sebut sekitar Rp164 miliar, sementara anggaran tenaga ahli disebut mencapai Rp55,47 miliar.
Di sektor transportasi, mahasiswa menilai layanan TransBanten belum menjangkau wilayah Banten Utara dan Banten Selatan secara memadai. Mereka meminta pemerintah memperluas jangkauan operasional transportasi tersebut.
Sektor kesehatan juga menjadi sorotan. Mahasiswa menilai masih terdapat ketimpangan kualitas sumber daya manusia kesehatan dan pemenuhan standar puskesmas antara wilayah utara dan selatan Banten.
Mereka turut menyoroti persoalan penyakit TBC, ISPA, dan HIV serta kondisi rumah sakit milik pemerintah. RSUD Banten disebut masih berstatus tipe B, sementara RSU Malingping, RSU Labuan, dan RSU Cilograng masih berstatus tipe C.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
