Sebab, menurut dia, hal ini terjadi akibat kurang perhatian nya Mathla'ul Anwar Pusat ke sekolah sekolah yang ada di perkampungan.
"Kami sangat miris mendengar sekolah tempat kami belajar dulu ambruk dan sudah tidak layak pakai lagi, saya berharap ada bantuan dari berbagai pihak terkait ambruknya tempat generasi penerus bangsa ini, baik dari pemerintah, perorangan, dan terkhusus kepada Pengurus MA Mathla'ul Anwar Pusat," ucapnya.
Menurutnya, kondisi sekolah yang tidak layak pakai ini sudah sepantasnya menjadi perhatian pengurus Mathla'ul Anwar Pusat, terkhusus bisa lebih memperhatikan bangunan sekolah yang berada di pelosok perkampungan.
"Karena biar bagaimanapun ini menjadi tanggung jawab besar para pengurus MA, dan menjadi PR yang harus diperbaiki kedepannya, terkait kepedulian terhadap sekolah Mathla'ul Anwar yang ada di perkampungan, terkhusus di Cikeusik Desa," ucap Aceng Murtado.
Dijelaskan Aceng Murtado, selama 12 tahun dirinya bersekolah disana, diakuinya bahwa sekolah tersebut jarang mendapatkan perhatian dari pihak terkait.
"Saya aneh padahal perguruan Cikeusik Desa ini sudah mengeluarkan ratusan Siswa dan bukan sedikit orang yang berprestasi di luar sana dari alumni sini, tapi kok kayak terkesan diam dan tidak peduli dari kokolot MA, padahal harusnya mendapatkan support, baik itu sarana, ataupun prasarana nya yang menyangkut kepentingan sekolah. Kalau ada korban jiwa, siapa yang akan bertanggungjawab," katanya
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
