Hengki menegaskan uang memiliki makna strategis sebagai simbol kedaulatan negara.
“Uang bukan hanya alat pembayaran, tetapi simbol kedaulatan.
Peredaran uang palsu mengancam masyarakat dan merusak kepercayaan terhadap sistem keuangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh uang yang dimusnahkan telah melalui penelitian dan pengujian hingga dipastikan tidak asli.
Aparat menangani uang tersebut sebagai temuan non-yuridis, bukan barang bukti perkara pidana.“Uang ini tidak terkait proses persidangan. Kami tangani secara administratif lalu kami musnahkan sesuai prosedur,” jelasnya.
Hengki juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara aparat penegak hukum dan Bank Indonesia.
Ia meminta masyarakat ikut berperan aktif mencegah peredaran uang palsu.
“Kami imbau masyarakat memahami ciri keaslian rupiah, menolak uang mencurigakan, dan segera melapor jika menemukan indikasi uang palsu,” tegasnya.
Perwakilan Bank Indonesia, Ameriza M. Moesa, memastikan seluruh uang yang dimusnahkan merupakan uang palsu.
“Sebanyak 8.527 lembar ini 100 persen palsu. Kami lakukan ini untuk menjaga integritas rupiah dan stabilitas sistem pembayaran,” ujarnya.I
a menilai peredaran uang palsu tidak hanya merugikan ekonomi, tetapi juga menggerus kepercayaan publik. Karena itu, Bank Indonesia terus mendorong edukasi melalui program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
“Edukasi penting agar masyarakat mampu mengenali keaslian uang dan mencegah peredarannya sejak dini,” katanya
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
