Lebak, iNewsBanten.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dikeluhkan warga Kabupaten Lebak. Mereka mengaku harus mengurangi anggaran kebutuhan rumah tangga karena biaya membeli bensin semakin membebani pengeluaran sehari-hari.
Pantauan wartawan di SPBU kawasan Simpang, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Jum'at (19/6/2026), sejumlah warga tampak mengantre mengisi BBM. Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter membuat masyarakat, terutama kalangan pekerja dengan penghasilan pas-pasan, harus memutar otak untuk menyiasati kebutuhan keluarga.
Rosita (38), salah seorang konsumen Pertamax, mengaku terkejut dengan penyesuaian harga tersebut. Menurutnya, kenaikan BBM di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok semakin memperberat beban ekonomi masyarakat.
"Jujur saya kaget. Sebagai pekerja biasa dengan penghasilan pas-pasan, dampaknya langsung terasa. Pengeluaran untuk bensin jadi lebih besar, sehingga mau tidak mau harus memotong biaya kebutuhan dapur," ujar Rosita.
Kondisi serupa dirasakan Tajudin (35), pengemudi ojek di Malingping. Meski lebih sering menggunakan Pertalite, dia sesekali mengisi Pertamax untuk menjaga performa mesin kendaraannya.
"Kenaikan harga ini jelas menjadi beban tambahan buat kami di lapangan. Pendapatan tidak menentu, sementara biaya operasional terus naik. Kalau sering pakai Pertamax, kami bisa tekor," katanya.
Sebelum harga BBM naik, Tajudin mengaku menghabiskan sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari untuk membeli bensin. Kini, biaya tersebut meningkat menjadi Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari.
"Kalau biaya bensin terus naik sementara penghasilan tetap, uang untuk kebutuhan sehari-hari pasti semakin menipis," ucapnya
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi pada Selasa (9/6/2026). Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 turut mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut memicu keluhan masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja. Mereka berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
