Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga menghadapi persoalan biaya pengobatan. EN mengatakan kartu BPJS Kesehatan milik DF sedang tidak aktif sehingga biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri.
EN memperkirakan biaya yang telah dikeluarkan mencapai ratusan ribu rupiah. Di antaranya sekitar Rp300 ribu untuk perawatan di rumah, Rp120 ribu untuk pemeriksaan darah, Rp100 ribu untuk konsultasi dokter, serta Rp90 ribu untuk obat.
Keluarga kini berharap kondisi lingkungan sekitar rumah DF mendapat perhatian. EN mengaku anaknya sudah dua kali mengalami DBD dan meminta adanya langkah pencegahan di lingkungan tempat tinggalnya.
"Saya mohon kepada pihak puskesmas untuk melakukan fogging di lingkungan rumah saya karena anak saya sudah dua kali terserang penyakit DBD ini," katanya.
Kasus ini menjadi perhatian keluarga karena DF sebelumnya mengalami demam tinggi dan kemudian dinyatakan DBD setelah menjalani pemeriksaan darah di klinik.
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala infeksi dengue, termasuk demam tinggi. Penurunan demam juga tidak selalu menandakan kondisi pasien telah membaik karena fase kritis dapat terjadi setelah demam mereda.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak Puskesmas Warunggunung mengenai pemeriksaan DF, kondisi ruang perawatan saat itu, serta alasan keluarga diminta membawa DF kembali ke rumah.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
