PANDEGLANG, iNewsBanten – Musim kemarau tahun 2026 mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebanyak 150 desa yang tersebar di 20 kecamatan masuk dalam kategori wilayah dengan potensi tinggi mengalami kekeringan berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) yang disusun Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang. Selasa, (14/07/2026).
Bahkan, kekeringan kini sudah mulai melanda tiga kecamatan, yakni Karangtanjung, Angsana, dan Sindangresmi. Warga di wilayah tersebut telah mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBDPK.
Kepala Pelaksana BPBDPK Kabupaten Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, mengatakan pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih ke daerah yang terdampak.
"Sudah ada tiga kecamatan yang mengajukan bantuan air bersih, yakni Karangtanjung, Angsana, dan Sindangresmi. Ketiga kecamatan itu sudah dilanda kekeringan. Hari ini kami mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Sindangresmi dan Karangtanjung, sedangkan kemarin ke Angsana," kata Riza.
Menurut Riza, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berdampak lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekeringan di puluhan kecamatan dan ratusan desa di Kabupaten Pandeglang.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB), sebanyak 20 kecamatan yang memiliki potensi tinggi mengalami kekeringan meliputi Sumur, Sukaresmi, Saketi, Pulosari, Patia, Pagelaran, Menes, Mandalawangi, Labuan, Jiput, Cisata, Cimanggu, Cikeusik, Cikedal, Cibitung, Carita, Angsana, Sindangresmi, Cadasari, dan Karangtanjung.
Sementara itu, sekitar 15 kecamatan lainnya berada pada kategori potensi sedang mengalami kekeringan.
"Potensi kekeringan di Kabupaten Pandeglang berdasarkan KRB berada pada kategori tinggi di 20 kecamatan dengan total 150 desa. Sedangkan sekitar 15 kecamatan lainnya masuk kategori potensi sedang," ujarnya.
BPBDPK Kabupaten Pandeglang saat ini terus melakukan pemantauan di seluruh wilayah yang memiliki potensi kekeringan, baik kategori tinggi maupun sedang. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak yang lebih luas apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
"Untuk wilayah lainnya terus kami lakukan pemantauan. Bahkan, tahun ini berpotensi terjadi kemarau panjang," pungkas Riza.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
