Tangerang Selatan, iNews Banten - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami kenaikan setelah wilayah tersebut terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah perlindungan diri, terutama bagi warga yang masih harus beraktivitas di luar rumah.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) per 9 September 2026, jumlah kasus ISPA meningkat 19,8 persen dalam satu pekan. Kasus tercatat naik dari 4.844 kasus pada pekan ke-34 menjadi 5.802 kasus pada pekan ke-35.
"Kasus ISPA naik dari 4.844 kasus pada pekan ke-34 menjadi 5.802 kasus pada pekan ke-35," kata Kepala Dinkes Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, Rabu (9/9/2026).
Allin meminta warga mengurangi aktivitas di ruang terbuka selama kondisi udara masih terdampak abu vulkanik. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker serta melindungi mata dan kulit.
"Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas ruang terbuka, memakai masker, melindungi mata dan kulit, serta tidak melakukan pembakaran sampah terbuka," ujarnya.
Menurut Allin, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, pekerja lapangan, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis.
Paparan partikel abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan berpotensi memperburuk kondisi warga yang memiliki penyakit seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Selain gangguan pernapasan, abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Partikel abu yang menempel pada sumber air maupun makanan terbuka juga perlu diantisipasi.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan wadah penampungan air dan makanan dalam kondisi tertutup untuk mencegah masuknya partikel abu. Warga juga diimbau tidak membakar sampah secara terbuka karena dapat menambah konsentrasi polusi udara.
Allin juga mengingatkan masyarakat segera mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang semakin berat.
"Jika mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, atau nyeri dada, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat," tuturnya.
Sementara itu, Dinkes Tangsel bersama Dinas Lingkungan Hidup terus melakukan pemantauan kualitas udara, termasuk konsentrasi partikel PM2,5 dan PM10. Kondisi tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
