“Politik modern tidak cukup mengandalkan figur nasional. Figur memang penting untuk membangun daya tarik, tetapi struktur daerah tetap harus mampu mengonversi popularitas menjadi kerja organisasi dan dukungan elektoral. Di sinilah ketua kabupaten dan kota menjadi strategis,” ujarnya.
Dwi melihat setidaknya ada tiga variabel yang relevan dalam membaca perombakan struktur partai di Banten: kapasitas organisasi, kekuatan jaringan teritorial, dan kemampuan membangun sumber daya politik. Loyalitas kepada partai tetap dibutuhkan, tetapi menurutnya tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan menggerakkan struktur sampai kecamatan, desa, kelurahan dan lingkungan sosial pemilih.
Karena itu, penempatan figur yang hanya bertumpu pada kedekatan dengan elite pusat dapat menghadapi persoalan apabila tidak memiliki legitimasi di internal daerah. Sebaliknya, figur yang memiliki jaringan lokal tetapi tidak mampu menyatukan faksi dan menjalankan strategi organisasi juga belum tentu efektif.
“Kesalahan partai sering terjadi ketika konsolidasi hanya dibaca sebagai pergantian orang. Padahal yang dibutuhkan adalah konsolidasi ekosistem politik: struktur, kader, jaringan sosial, komunikasi publik, data pemilih sampai kemampuan membaca isu lokal,” kata Dwi.
Editor : Mahesa Apriandi
Artikel Terkait
