Bongkar Ketimpangan Pendidikan Banten, Gaji Guru hingga Dugaan Pencitraan Jadi Sorotan
Dalam analisa mereka, faktor ekonomi menjadi penyebab dominan. Biaya transportasi, keterbatasan fasilitas pendidikan, serta tekanan ekonomi keluarga mendorong banyak pelajar memilih bekerja dibanding melanjutkan sekolah. Hal ini dinilai menunjukkan kegagalan kebijakan dalam menjamin keberlanjutan pendidikan.
Mahasiswa juga menyoroti Program Sekolah Gratis yang dinilai belum menyentuh akar persoalan. Program tersebut dianggap hanya menutup sebagian kecil biaya pendidikan, tanpa menyelesaikan masalah struktural seperti ketimpangan wilayah, kualitas fasilitas, dan kesejahteraan tenaga pengajar.
Secara keseluruhan, massa aksi menilai kebijakan pendidikan di Banten masih cenderung bersifat populis dan belum berbasis pada kebutuhan riil masyarakat. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk melakukan audit kebijakan, mempercepat pemerataan infrastruktur pendidikan, serta memastikan peningkatan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama.
Aksi ini menjadi sinyal bahwa persoalan pendidikan di Banten tidak lagi bisa ditutup dengan program jangka pendek. Tanpa langkah konkret dan sistemik, mahasiswa menilai ketimpangan pendidikan berpotensi memperlebar jurang sosial dan melemahkan kualitas sumber daya manusia di masa depan
Editor : Mahesa Apriandi