Miris 100 Siswa MDTA di Jawilan Kabupaten Serang Belajar Masih di Gubuk, Siswa Kepanasan dan Kehujan
"Alhamdulillah sangat terbantukan. Harapan saya ingin punya kelas buat anak-anak sekolah madrasahnya, supaya tidak kepanasan dan tidak kehujanan," ujar Erna.
Sementara itu, salah seorang guru MDTA Roudhatul Mardhiah, Mardiah, mengatakan madrasah tersebut didirikan sebagai tempat bagi anak-anak untuk belajar mengaji sekaligus memperdalam ilmu agama Islam.
Menurutnya, jumlah siswa yang terdaftar mencapai sekitar 100 orang apabila seluruhnya hadir. Namun, hingga kini proses pembelajaran masih mengandalkan saung dan teras rumah warga karena belum memiliki gedung sendiri.
"Ini sengaja didirikan untuk anak-anak sekolah, supaya anak-anak bisa mengaji dan belajar ilmu agama lebih dalam lagi," kata Mardiah.
Ia berharap ke depan para siswa dapat membaca Al-Qur'an dengan baik, memahami ilmu agama Islam, serta tumbuh menjadi generasi yang memiliki akhlak karimah.
Di sisi lain, kebutuhan akan gedung sekolah menjadi harapan besar bagi pengelola madrasah. Terlebih, kondisi saung membuat proses belajar tidak optimal, terutama ketika cuaca panas maupun hujan.
"Harapannya kita ingin punya gedung. Tadi pun anak-anak kepanasan. Kalau siang itu panas karena memang kita belum punya gedung. Kita masih menggunakan saung dan teras rumah," ujar Mardiah.
Kondisi tersebut membuat pembangunan gedung yang layak menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan pendidikan agama bagi anak-anak di Kampung Ganggeng dapat berlangsung lebih nyaman dan aman.
Editor: Mahesa Apriandi